MataHatiKu (4
•September 26, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarSo what ?
•September 26, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarSo what ?
Ketika bulan kesedihan keluarga Nabi tiba
Bulan Muharom jelang karbala
Alam menyambut iba
Kesedihan menyelimuti dada
Orang-orang yang bertakwa
Menangis, meratap pilu
Memupuk duka, menuai lara
Kembali mengulang sendu
Melepas sesal dan rindu
Pada Husain di karbala
Hari-hari terasa pahit
Terbayang derita keluarga mustofa
Dipadang gersang Nainawa
Ketika Zainab menjerit
Melepas Husain, tinggalkan kerabat
Sambut indahnya maut
Sebagai tunggangan tercepat
Bertemu Tuhan, samudra Rahmat
Tapi apa yang kau dapat
Setelah Karbala berlalu
Hanya tangis dan ratap semu?
Lantas, apa yang dapat kau perbuat
Setelah hati bersatu,
Menangis meratap pilu
Adakah hikmah didapat ?
Dapatkah kau meneruskan misi Husain
Menegakkan keadilan
Walau nyawa jadi taruhan?
Sanggupkah kau membawa panji Husain
Menyebar kedamaian dan kebenaran
Walau syahadah sebagai imbalan?
Jangan bilang bisa dan sanggup
Kalau dalam dirimu
Masih ada tempat Setan tuk bersemayam.
Jangan bilang bisa dan sanggup
Kalau dalam dirimu
Belum ada singgasan Tuhan.
Jadilah manusia Tuhan
Kau kan jadi penerus Husain
(By: Simpe Ali, 120203)
SANG UTUSAN TUHAN
•September 26, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarSANG UTUSAN TUHAN
Dahulu kala tempat itu adalah padang pasir yang gersang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, Sang onta pun tak kuat menanggung beban hidup sendirian, karena hidup di tanah yang mati pasti tak tentu arah, bukankah hidup sendirian adalah sebuah bentuk kematian ?
Tak ada karpet hijau dedaunan yang membentang, yang akan melukiskan keagungan tuhan dan gambaran ketenangan. Tak ada pohon rindang penyejuk sang musafir yang kepanasan. Tak ada mata air sumber pelepas dahaga penunggang dan binatang tunggangan kehausan yang tak sengaja melintasinya. Tak ada pertolongan alam sedikit pun bagi mereka yang tersesat. Yang ada hanya hamparan padang pasir nan luas seluas mata memandang.
Tak lama berselang Sang utusan Tuhan datang, hamba soleh pilihan-Nya yang sengaja di utus untuk menyejukan padang pasir yang gersang. Menumbuhkan semangat hidup sang onta, menyemarakan arti kehidupan dan mengusir bayang maut yang senantiasa menuntut .
Menggelar karpet hijau kehidupan agar setiap orang yang memandang bisa teringat akan tuhan dan memuji kebesaran-Nya. Menanam pohon kesejukan agar setiap orang bisa berteduh dengan damai dalam pelukan bayangannya. Menyediakan air penyejuk dan sumber pelepas dahaga bagi sang musafir yang tercekik oleh panasnya kehidupan dan jauhnya perjalanan. Dan menunjukan jalan keselamatan tercepat bagi orang-orang yang tersesat.
Ternyata hanya orang soleh dan pilihan Tuhanlah yang bisa membawa berkah bagi alam di sekitarnya. Yang bisa menumbuhkan hidup agar lebih hidup. Utusan tuhanlah yang tahu jalan kehidupan dan jalan untuk mendekati sang pemegang urat nadi kehidupan.
Waktu berlalu, tahun berjalan, hari berganti. Kehidupan pun semakin asyik dinikmati. Ingatan manusia pun semakin tertutupi selimut tebal kelupaan terhadap bayangan hidup setelah kematian.
Lama-kelaman manusia semakin betah tinggal dibumi dan melupakan tempat kembali. Seakan-akan hidup untuk selamanya, tak berujung dan tak jelas depan belakangnya. Manusia terlalu menikmati hidangan hina, tanpa memperdulikan lagi darimana dan cara mendapatkannya. Manusia tak menyadari karena lalai, tak berfikir karena terlalu bodoh, tak menyempatkan diri karena terlalu sibuk dengan urusan dunia tak berarti. Tak pernah meluangkan waktu sedetik pun tuk sedikit menerawang dan menyadari keadaan dirinya dan alamnya. Awan tebal turun kebumi tuk menghalangi pandangannya yang buta, sehingga semakin gelap gulitalah pandangan siang dan malam pun semakin pekat, sepekat kedalaman laut hitam Tak ada lentera hati apalagi mentari pagi sebagai harapan terakhir. Lentera hati mati tertiup angin dosa dan kemaksiatan. Mentari pagi hilang tak muncul lagi ditelan bumi di ujung barat. Tak ada harapan tak ada penyelamat.
Hamparan bukit hujau kehidupan kembali gersang dalam rasa. Kesejukan rindang pohon-pohon kedamaian kembali mati dan mengering dalam makna. Walau dimata tampak ranum dan hijau lebat. Oh… Sebuah prahara tak teduga, sebuah nestapa kejam melanda manusia. Sebuah realita neraka yang menyakitkan siapa saja, tak ada harapan tak ada penyelamat.
Penghuni bumi di abad setelahnya, yang hidup di hamparan hijau dan lembah kesejukan malah terasing dan tak kenal penciptanya, Bukannya kesalehan yang ditampakan tapi kebejatan. Alam bukannya menjadi sejuk tapi berbalik menjadi gersang. Alam bukan menjadi pembawa bahagia tapi pembawa bencana petaka. Penghuni bumi diabad setelahnya merindukan kembali Sang utusan Tuhan dan orang-orang soleh pilihan Tuhan agar bukan alam yang tampak dimata saja yang menyejukan pandangan dan penglihatan tapi juga alam yang lebih luas yang merupakan sumber ketenangan utama manusia. Karena bukankah ketika alam luas menjadi cerah maka alam yang lebih kecil akan menjadi lebih mudah ? Bukankah ketika sang mentari pagi menampakan kebesarannya maka cahaya lilin-lilin kecil pun meredup dan merunduk mengakui kekerdilannya ?. Bukankah Kecerdikan sang kancil menjadi hilang tersembunyi dibalik gelombang ketika mulut raja hutan menampakan taring tajam tepat di didepan moncong hidungnya ?
Setelah beratus abad berselang Tuhan yang Maha Rahman mengutus kekasihnya untuk kembali mengingatkan manusia, agar kembali kejalan yang sudah digariskan, jalan yang akan mengantarkan mereka kejalan keselamatan abadi, jalan kebahagian yang suci yang takan pernah diselimuti apalagi diselubungi kesedihan, jalannya para kekaksih Allah yang maha kasih.
Utusan Tuhan manusia paripurna, penyelamat bumi dari kebinasaan telah lahir kembali. Kelahiran yang membawa berkah sekaligus kabar gembra. Berkah bagi hamba-hamba Allah agar mereka lebih bersyukur atas nikmat yang tak terukur. Kabar gembira bagi hamba-Nya yang begelimang kemaksiatan, agar mengingat tempat kembali pulang, menghapus dosa-dosa yang sudah terlanjur dilakukan. sebuah kabar gembira bahagia bagi pendosa yang sudah keterlaluan, daripada hidup lebih lama tak karuan,lebih baik mengingat kematian.
Sebuah kelahiran yang megguncangkan dunia. Karena tepat hari kelahirannya istana raja yang sombong tumbang, tuhan palsu sesembahan orang-orang bodoh roboh. kemunafikan terselubung tekembang menjadi sirna dihadapan cahaya kebenaran. Sungguh kelahiran cahaya diatas cahaya, cahaya yang terbit mengiringi matahari, agar tampak lebih bercahaya, bersinar terang menerangi langit dan bumi.
Sang utusan Tuhan, manusia sempurna itu masa kecilnya hidup penuh kebahagian, karena wajahya senantiasa menebar senyum ketenangan dan cinta kasih kepada sesama. Kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena orang-orang yang dicintainya meninggalkannya. Pertama pengayom utamanya harus meninggalkan diriya sendirian padahal dialah sumber kasih dan cintanya. Kedua pohon sandaran kasihnya juga meyusul dan ia pun sendirian dengan kesedihannya.
Tapi itu bukanlah sebuah alasan baginya untuk putus asa, ataupun kehilangan semangat hidup. Justru berawal dari situlah semangat hidup semakin hidup, kekuatan untuk bertahan mengakar kuat. Kesendiriannyalah yang menumbuhkan kemandiriannya, kesedihan yang mendidiknya kasih sayang, kesengsaraan yang membuatnya memiliki empati tinggi mampu merasakan penderitaan sesama, ketimpangan yang dia alami mengajarkan keadilan, dan kedzoliman yang selalu di rasakan adalah modal kesabarannya.
Masa kedewasaan ia lewati dengan perjuangan, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang sirna di telan ganasnya manusia padang pasir gersang, terbawa badai debu panas kehidupan. Ia berjuang sendirian karena kesendirian baginya bukanlah berarti kamatian justru ia belajar kehidupan dari kesendiriian.
Kesendirian pula yang menyebabkan ia tahu segala hal tentang kehidupan. Kesendirian pula yang menyebabkan ia bisa mendengarkan suara hatinya yang bersih. Kesendirian pula yang menyebabkan ia mendapatkan hiburan Tuhan, Malaikat khusus penyebar wahyu selalu menemani dan menyanyikan lagu-lagu kedamaian, lagu Tuhan penyejuk iman, penghilang dahaga jiwa, pelepas laparnya raga.
By: Simpe Ali
Jepara 170103
LARA PERPISAHAN
•September 26, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarLARA PERPISAHAN
(Untuk Sayyidah Zainab)
Saat senja menjelang disebuah padang pasir gersang, sang mentari nampak enggan untuk pergi. Ia malas menggerakkan kaki, serasa ada beban berat menghimpit yang membanduli kaki rapuhnya. Ia nampak sedih, jelas terlihat dari rona cahayanya yang kian redup, seredup mata dikala lelap. Cahaya kesedihan menghiasi wajahnya yang keriput, kesedihan yang tak bisa ia ceritakan, hanya ia simpan sebagai dendam terpendam. Ia murung bak manusia yang patah semangat, tak ada lagi harapan hidup apalagi asa menancap kuat.
Akhirnya ia pergi juga walau malas berangkat , karena harus berpisah dengan sang hari yang selalu ia kasihi, ia pergi dan hanya menyisakan sedikit cahaya kesedihan tuk sahabat setianya, sang malam yang selalu menanti. Cahaya dari sebuah kesedihan, kesedihan tak terperikan, luka sepanjang zaman.
Sementara itu selimut hitam malam pun mulai digelar, ia tebarkan ke seluruh ujung pandangan, tapi hitamnya tampak memudar. Tak seperti biasanya, ia pun agak ragu tuk menyelesaikan tugas hariannya, setelah mendengar dan melihat cahaya kesedihan sang mentari yang ia dapatkan sebelum sang mentari pergi menjauh. Ia dapatkan pesan supaya ia menceritakan kesediahn yang ia dapatkan, yang mungkin esok, lusa atau tahun depan bisa ia ceritakan pada generasi mendatang. Generasi yang berwawasan, bisa diharapkan dan bukannya generasi pembangkang, pemuja Setan.
Beberapa saat Sebelumnya, sebelum mentari murung dan malam menjadi kelam, padang pasir gersang itu dipenuhi lautan manusia marah, dan sekarang menjadi lautan darah merah.
Lautan darah kesucian, suci karena tertumpah dari mereka yang merindukan kesyahidan. Kesyahidan bagi mereka adalah satu hal yang sangat berharga., karena kesyahidanlah yang akan mengantarkan mereka pada surga yang selalu didamba. Kesyahidan adalah jalan terbaik dan tercepat tuk bertemu Sang Kekasih pujaan, Tuhan semesta alam Pemegang urat nadi kehidupan..
Syahadah adalah bunga mewangi nan indah, yang akan menebarkan aromanya keseluruh polosok alam. Bunga merah merona yang akan membuat setiap orang tertarik, ingin memiliki, mememtik dan menciumnya.
Darah tertumpah dari manusia yang berperang memperebutkan mahkota idaman. Yang satu menginginkan mahkota idaman sebagai anugrah dari Setan laknat, yang satu lagi berhasrat memakai mahkota dambaan pemberian Tuhan Sang Penebar Rahmat. Satunya tentara pembela tiran satunya tentara pembela kebenaran. Perang antara pendukung takwa dan pengusung dosa. Perang tak seimbang dalam panggung sejarah, yang tak pernah terjadi sebelum dan sesudah.
Saat perang berakhir, kemenangan dipetik pihak pengusung dosa. Akhirnya tak ada sisa bagi pendukung taqwa. Pada waktu itu tubuh suci putra Ali terkulai lemas kehabisan darah dan sangat mengenaskan, disambut tangan lemah putri agung pengganti Zahro. Tubuh itu dipeluk erat dan tak mau ia lepaskan, ruhnya telah terbang gapai nirwana Tuhan, yang sengaja dipersiapkan bagi pendukung kebenaran. inilah lara perpisahan menyakitkan, yang tak bisa digambarkan. Karena hanya dialah pembela dan pelindungnya, yang kini telah tiada. Sekarang tinggal ia jemput derita, bersama anak-anak yatim tak berdosa, bersama dia sang penerus wilayah yang terbaring luka. Terbayang penderitan demi penderitaan yang akan ia alami, dan nampak jelas dipelupuk matanya yang kering kehabisan air mata, yang ia kuras habis saat perpisahan menyakitkan menjelang.
Yang semakin membuat sang mentari bersedih perih, sang malam merintih pedih, adalah ketika bidadari-bidadari Nainawa harus meneruskan misi Sayyidu Syuhada. Walau siksaan mendera, hinaan menimpa, mereka tetap tegar, sertegar sang karang kala ditampar ombak lautan. Lara perpisahan menyakitkan akhirnya harus terjadi juga, karena demi tujan mulia, ridho Tuhan yang didamba.
Karena tuk jemput sang fajar yang akan melahirkan embun bening abadi, gelap gulita malam harus bisa dilewati. Baru bisa jemput sang hari yang besinar terang, membawa semangat kehidupan, menebarkan kedamaian.
(By:Simpe Ali 030303)
LAHIR ALMUSTHAFA PERADABAN BARU TERCIPTA
•September 26, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarLAHIR ALMUSTHAFA PERADABAN BARU TERCIPTA
Muhammad Manusia Agung Pilihan
“Orang-orang yang tidak mengenal Muhammad, sesungguhnya mereka tidak mengenal sejarah”. Begitulah kata Abdul Wahid Khan1. Rosululoh Muhammad adalah sosok yang telah mengukir sejarah, menorehkan peradaban baru dibumi ini. Maka kalau kita tidak mengenalnya dengan baik, sebenarnya kita telah melupakan sejarah. Sejarah besar dalam kehidupan ini. Karena beliau adalah sosok yang telah mengguncangkan dan mencengangkan dunia dari lembah gurun pasir panas yang jauh dari kemajuan. Dialah yang telah merombak tatanan dunia yang mulai rapuh, menyelamatkan penduduk bumi dari kehancuan.
Keadaan masyarakat Arab saat Rosululloh dilahirkan sangat memprihatinkan. Ira M. Lapidus, Prof Sejarah California menggambar: ”Arabia dalam keadaan terbagi: sebuah masyarakat yang ditengah eksperimen pembentukan politik terancam oleh anarki; klan yang kuat dan kekuasaan kesukuan mengancam stabilitas pertanian, aktivitas komersial dan ikatan politik. Ia merupakan masyarakat yang telah terjamah oleh sejumlah pengaruh kerajaan namun tidak disertai pemerintahan pusat; ditandai dengan agama monotheistic yang tidak disertai dengan pembentukan gereja, rentan terhadap pengaruh ide-ide Timur Tengah namun tidak menyerap ide-ide tersebut. Arabia sedang menemukan posisinya dalam dunia Timur Tengah. Segala sesuatunya dalam keadaan yang ruwet. Tidak ada sesuatu yang bersifat pasti, di tempat inilah Muhammad lahir, tumbuh berkembang, menyampaikan al Qur`an, dan ditempat ini pula ia menjadi Nabi Islam2.
Lebih jelasnya, coba kita simak kesaksian pelaku sejarah, yang mengungkapkan kesaksiannya akan keadaan masyarakat Jahiliyah pada waktu itu, yang diugkapkannya pada raja Habsyah (Ethiopia) saat bermigrasi untuk menghindari intimidasi para penguasa Arab, dialah Ja`far Bin Abi Tholib. Beliau mengatakan: ”Wahai raja, sebelumnya kami adalah masyarakat Jahiliyah yang meyembah patung, memakan bangkai, suka melakukan kejahatan dan makar, memutuskan silaturahmi, suka melupakan tetangga, yang kuat menindas yang lemah.
Sampai datanglah seorang utusan Alloh dari golongan kami sendiri, yang kami ketahui keturunannya, kejujurannya, amanatnya dan kesuciannya. Dia mengajak kami kepada Alloh, untuk mengesakan dan menyembah-Nya. Melepaskan semua sesembahan nenek moyang kami terdahulu, yaitu menyembah batu, dan patung……. “3
Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa semua belahan dunia saat itu, diambang kehancuran. Masyarakat Arab terkenal dengan Jahiliyah dan sebagai kaum Pagan (penyembah patung). Orang-orang Romawi, para pengikut Nabi Isa as telah berani merubah ajaran al Masih, mengacak-acak Injil dan disesuaikan dengan kebutuhan materi mereka. Dan yang paling parah adalah menganggap Kalimulloh, Nabi Isa sebagai anak Alloh. Yahudi telah berani merubah isi kitab Taurat, demikianlah yang direkam dalam al Quran. Negeri kerajaan Persia beragama Majusi (Zoroaster) penyembah api. Jadi semua belahan dunia benar-benar diambang petaka yang sangat dahsyat, petaka yang siap menghancurkan dunia dan penghuninya. Dengan kelahiran Muhammad Saw inilah masyarakat menjadi tercerahkan, langit Mekah mendadak cerah menyambut kelahirannnya, tiang-tiang penyangga istana kerajaan Persia tumbang, api abadi yang selalu menyala dan tidak pernah padam semsembahan umat Zoroster pun padam. Dunia tercerahkan dengan kelahirannya, kelahiran yang disambut gembira oleh penduduk langit dan bumi. Kelahiran yang membawa angin segar perdamaian dan pencerahan.
Dengan kelahiran Rosululloh Muhammad, tanah gersang nan panas Arabia menjadi sejuk. Pemandangan indah, hamparan rumput hijau membentang dan kekayaan melimpah negri-negri di luar Arab seakan menjadi kalah dengan adanya manusia agung ini. Sejarawan Kristen George Jordac menggambarkan fenomena ini: ”Padang pasir Arab merupakan tanah yang ajaib, disana dilahirkan sesuatu yang mengalahkan karunia-karunia di tempat lain. Mahkluk yang murah hati ini adalah pribadi agung yang menaburkah berkah pada umat manusia, yang melenyapkan kesesatan, karenanyalah nilai kehidupan menjadi jelas dan mulia, kebebasan menjadi perkara yang besar, serta realitas menjadi terangkat, dialah Muhammad Saw”4
Rosululloh adalah pribadi agung, pemuda yang terkenal dengan kesalehan dan kejujurannya. Beliau merupakan putra Arab yang disayangi oleh setiap suku. Sejak kecil beliau terkenal dengan julukan al Amiin, julukan yang tak pernah disandang oleh selainnya, julukan yang hanya dimiliki oleh pribadi yang memiliki jiwa kerosulan, ruh kenabian. Tapi setelah beliau mengumandangkan misi nubuwah maka julukan agung dan penghormatan mereka pun menjadi sirna, karena jelas mengancam kepentingan mereka.
Dari silsilah keluarga beliau merupakan keturunan orang-orang berpengaruh dan mulya. Beliau keturunan langsung nabi pendiri Ka`bah, Kholilulloh Ibrohim as, bapak pendiri tauhid sejati. Kakeknya terkenal sebagai penjaga Ka`bah dan hanya kelurga beliaulah yang tak pernah terpengaruh kaum pagan untuk menyembah Latta, `Ujja dan Manat, keluarga inilah penerus tradisi dan ajaran Ibrohim as. Keluarga Rosululloh pula yang selalu menentang kebijakan para tiran dan penguasa Jahiliyah, yang selalu menindas dan mengintimidasi orang-orang lemah tak berdaya. Penguasa Arabia saat itu adalah orang kaya, kemulyaan bagi mereka terletak diharta, sehingga mereka yang tak memiliki kekayaan berarti budak, yang bisa mereka perlakukan dengan seenaknya. Kakek Rosulullohlah yaitu Abdul Mutholib yang selalu membela dan memperjuangkan hak orang-orang tertindas. Inilah ajaran Ibrohim as yang akan dilanjutkan oleh Rosululloh Saw.
Ungkapan indah tentang Rosululloh ini adalah kalam Alloh Swt sendiri yang direkam dalam Al Quran, dan ini merupakan bukti nyata abadi. Dan tidak pelak lagi bahwa pujian Alloh adalah ungkapan dan pujian yang sesungguhnya karena Dia Maha Tahu hakikat yang sebenarnya. Alloh Swt berfirman:
”Sesungguhnya terdapat dalam diri Rosululloh Saw itu suri tuladan yang baik bagi kamu…”5
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”6
Bukan hanya itu saja, Alloh pun bersholawat kepada Rosululloh sebagai bentuk penghormatan, akan keagungan Rosululloh, malaikat pun bersholawat kepadanya sebagai doa. Dan kita pun diajak untuk bersama-sama menyatukan barisan, sejajar dengan malaikat dengan megucapkan sholawat kepada Nabi agung ini, sungguh sebuah kedudukan yang teramat agung. Alloh Swt berfirman:
“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-Nya bersholawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersholawatlah kepadanya, dan berilah salam dengan seungguh-sungguh”7
Setiap orang yang tahu kedudukan agung beliau memuji dan menyanjungnya, seakan pujian dan sanjungan terhadap beliau tak habis untuk diucapkan. ”Mata bersinar seterang cahaya matahari, kenyataan kata-kata yang keluar dari bibirnya lebih jelas dari sinar matahari, hatinya lebih segar dari bunga kebun Yastrib dan Toif, kebiasaan dan moralnya lebih baik dari cahaya bulan malam Hijaz, pikirannnya lebih kencang dari angin yang kencang, lidahnya yang mempesona, hatinya yang penuh dengan cahaya, putusan yang kokoh bagaikan pedang tajam, dan kata-kata yang menyenangkan keluar dari mulutnya dialah Muhammad bin Abdulloh Nabiyulloh”8. Inilah pujian jujur orang Kristen terhadap keagungan nabi Islam, George Jordac. Bukannya berlebihan, apalagi direkayasa tapi inilah realita sebenarnya.
Dengan kelahiran Muhammad, Peradaban Baru Tercipta
Kata peradaban berasal dari kata adab. Yang berarti kesopanan, kehalusan, dan kebaikan budi pekerti atau akhlak. Dan arti peradaban sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indoneisa artinya adalah 1.kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir maupun batin, 2. Hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa9.
Definisi dari istilah Jahiliyah itu sendiri dalam kamus-kamus bahasa Arab artinya disamping masyarakat yang bodoh adalah sebuah masyarakat yang tidak beriman dan meyekutukan Alloh Swt. Masyarakat yang menggunakan konstitusi tiran sebagai pegangan dan mengenyampingkan hukum Alloh swt. Masyarakat yang tahu akan kebenaran tapi berusaha untuk tidak mengakuinya, karena mengancam materi mereka. Inilah makna Jahiliyah yang sebenarnya.
Dengan kelahiran Rosululloh dan membawa misi Ilahi peradaban baru tercipta, masyarakat yang biadab menjadi bangsa yang beradab, masyarakat yang mengalami dekadensi moral menjadi masyarakat yang tahu akan keluhuran budi dan moral. Karena Rosululloh diutus untuk mengajarkan dan menyempurnakan akhlak, beliau mengatakan: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”10.
Mengajarkan persamaan antara sesama manusia dan tidak pandang ras, golongan ataupun bangsa, miskin ataupun kaya, tuan ataupu papa. Beliau menjadikan budak Afrika hitam menjadi orang mulya dan orang terdekatnya karena alasan taqwa. Pengikut setianya dari warga kelas dua, klan lemah, kalangan migran dan orang-orang mustad`afin11. Oleh karena itulah para nabi dan para Imam dalam istilah Ali Syariati adalah disebut dengan julukan para pemimpin mustad`afin.
Karena peranan seorang utusan Tuhan dalam merubah keadaan dan sejarah adalah sangat berperan sekali, sebagaimana yang dikatakan oleh Syahiid Murtadho Mutohhari, beliau mengatakan: ”Kaum anti agama pun mengakui bahwa para nabi memiliki peran yang efektif dalam sejarah. Di masa lalu mereka merepresentasikan sumber kekuatan nasional yang fantastis”12. Dan kita pun bisa melihat bahwa semua nabi adalah mereka orang-orang yang merubah sejarah, menorehkan tinta emas dalam panggung sejarah manusia.
Keberhasilan Nabi dalam merubah peradaban manusia sangat jelas dan banyak sekali di ungkapkan oleh para tokoh-tokoh besar, baik dari kalangan sejarawan maupun bukan. Keberhasilan beliau adalah mendirikan liga bangsa-bangsa lintas ras. Misalnya Prof Hurgronje mengatakan: ”Liga bangsa-bangsa yang didirikan oleh Nabi Islam meletakan prinsip kesatuan internasional dan pesaudaraan manusia atas dasar universal untuk memberikan cahaya kepada negara-negara lain”13 .
Begitu juga tokoh pendiri India Mahatma Gandhi mengungkapkan tentang keberhasilan Rosululloh dalam merubah sejarah peradaban manusisa, dengan mengatakatan: ” Islamlah yang telah merubah Spanyol menjadi berbudaya, Islamlah yang telah membawa cahaya ke Maroko dan oleh karena itu orang-orang Eropa di Afrika Selatan ketakutan atas kemunculan Islam, karena orang–orang kulit hitam menuntut persamaan atas orang-orang kulit putih”14.
Dalam buku Sejarah Sosial umat Islamnya Lapidus juga mengatakan :”Nabi Muhammad merupakan seorang tokoh besar dalam perubahan sejarah. Menurut keterangan al Quran ia menyampaikan sebuah sintesa ide keagamaan Arabia, Yudaisme, dan Kristanitas, bersama ide Islam yang baru dan khas, menjadi sebuah sistem monoteisme yang baru”15.
“Satu aspek sejarah adalah membawa sketsa kehidupan manusia-manusia besar di masa lalu. Manusia-manusia ini sebenarnya menciptakan sejarah ketika mereka membuat revolusi dan pembaharuan dalam pola kehidupan umat manusia. Diantara pribadi-pribadi besar itu, tak satu pun yang menjalani kehidupan yang demikian penting dan bermakna seperti Nabi Muhammad, tak ada diantara pribadi-pribadi besar lainnya yang meninggalkan kesan yang demikian langgeng pada masyarakat dimana ia muncul seperti Nabi Islam ini. Ini kenyataan yang telah diakui oleh hampir semua sejarawan, baik Timur maupun Barat”16. Begitulah perkataan sejarawan besar Iran, Syekh Ja`far Subhani.
Dalam buku yang sama beliau pun menjelaskan lebih jelas tentang peranan Rosululloh ini, dengan mengatakan:”Beliau menegakkan hak-hak manusia ketika hak-hak itu sedang diserobot; beliau melaksanakan keadilan ketika kezaliman merajalela dimana-mana; beliau memperkenalkan kesamaan ketika diskriminasi yang tak semestinya sedang lumrah; beliau memberikan kebebasan ketika manusia sedang berkeluh kesah dalam penindasan, kekejaman dan ketidak adilan.
Beliau membawa risalah yang mengajarkan manusia untuk taat dan betakwa hanya pada Alloh saja, memohon pertolongan hanya dari Dia saja. Risalahnya yang universal memenuhi semua aspek kehidupan manusia, termasuk hak-hak, keadilan, persamaan dan kebebasan”17. Beliaulah yang telah berhasil mendirikan masyarakat madani, civil society, menjadikan masyarakat yang benar-benar gemah ripah loh jinawi tentrem kerto raharjo, keadilan merata, kemakmuran memenuhi pelosok negri. Tapi sayang tak berlangsung lama.
“Inilah risalah (ajaran Rosululloh Saw) yang manusia, sekarang lagi, telah kehilangan bimbingannya. Maka mengapakah kita tidak datang lagi kebawah naungannya agar umat manusia terselamatkan dari kehancuran dan dapat mencapai kedamaian, kemajuan dan kebahagiaan”18. Ya, abad ini adalah abad manusia tak beradab, abad kembali kemasa Jahiliyah. Mulailah dari kita untuk membentuk pribadi-pribadi luhung agar peradaban yang dulu ada dijaman Rosul kita kembalikan, agar keadilan dan kedamaian dunia kembali tercipta.
By: Simpe Ali
(090403)
Reference:
1. The Personality of Alloh`s Last Messenger (Rosululloh Dimata Sarjana Barat ) Abdul Wahid Khan :…..
2. A History of Islamic Societies (Sejarah Sosial Umat Islam) Ira M. Lapidus, Prof Sejarah California:I:28
3. As Siroh an Nabawiyah.Ibnu Hisyam Juz:1 :361
4. The Voice of Human Justice (Suara Keadilan, Sosok Agung Ali Bin Abi Tholib) George Jordac :5
5.Qs 33:21
6. Qs 68:4
7. Qs 33:56
8. The Voice of Human Justice (Suara Keadilan, Sosok Agung Ali Bin Abi Tholib) George Jordac :6
9. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua :5
10. Kanjul Ummal III:16
11. A History of Islamic Societies (Sejarah Sosial Umat Islam) Ira M. Lapidus, Prof Sejarah California:I:35
12. Man and Universe (Manusia dan Alam Semesta) Syahid Mutohhari :125
13. The Personality of Alloh`s Last Messenger (Rosululloh Dimata Sarjana Barat ) Abdul Wahid Khan:163
14. Ibid
15. A History of Islamic Societies (Sejarah Sosial Umat Islam) Ira M. Lapidus, Prof Sejarah California:I:49
16. The Message (Arrisalah, sejarah kehidupan Rosululloh) Ja`far Subhani:2
17. Ibid
18 .Ibid
KENAPA HARUS MENANGISI IMAM HUSAIN AS?
•September 26, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarKENAPA HARUS MENANGISI IMAM HUSAIN AS?
Islam sejak mula senantiasa terkoyak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Umat Islam pasca Rosulullah wafat mulai terpecah dan siap menghancurkn Islam dari dalam. Kalau menghadapi musuh dari luar, yang memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap kaum muslimin senantiasa dikaruniai kemenangan, akan tetapi ketika harus menghadapi musuh dalam selimut, orang-orang yang mengaku muslim tapi berhati busuk, luarnya baik-baik padahal dalamnya munafik, menjadi tidak berdaya dan mendadak lumpuh. Akhirnya kehancuran Islam dimana-mana, bid`ah merajalela wasiat Rosul di abaikan dan umat pun tersesat dalam hutan belantara menakutkan. Alangkah banyaknya penyimpangan-penyimpangan itu, dan kita bahas satu saja yaitu bulan Muharram.
Bulan Muharram dimata masyarakat Jahiliyyah memiliki nilai lebih, dan mereka pun menghormatinya. Ketika Islam datang lebih di mulyakan lagi. Akan tetapi Kaum muslimin berbeda pendapat dalam menyikapi bulan Muharram ini:
Ada yang menyambutnya dengan rasa syukur dan gembira, karena beranggapan bahwa bulan Muharrom adalah sebuah bulan pertama dari tahun baru. Maka selayaknyalah tahun baru itu disambut dengan rasa gembira dan pestapora, Harus menyambutnya dengan penuh rasa syukur karena Allah yang maha Kuasa telah memberikan nikmat yang amat besar dengan memanjangkan umur. Juga keberhasilan para Nabi kebanyakan pada bulan Muharram ini. Misalkan keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan paus,dan selamatnya Nabi yusuf, dan lain-lain. Itu anggapan sebagian kaum Muslimin.
Ada juga mereka yang menyambut bulan Muharram ini dengan tangisan dan kesedihan, kebalikan dengan yang pertama. Mereka menyambut bulan muharram dengan bersedih terutama dari tanggal satu sampai tanggal sepuluh. Setiap malam mengadakan Majlisil `ajja (majlis tangisan dan kesedihan). Mereka menamakan hari kesepuluh dengan`Asyura (kalau dalam masyarakat jawa bulan Muharram disebut juga bulan Suro, kalau di sunda Sura mungkin ada kaitannya dengan penamaan ini.)
Alasan mereka adalah karena dalam bulan ini adalah bulan kesedihan nabi Muhammad dan keluarganya, dimana cucu tecinta nabi dibantai.,Penghulu pemuda ahli surga di bunuh,,darahya tertumpah ,yaitu Imam Husain as.
Mereka ingin menunjukan rasa cinta mereka, mengekpresikan cinta mereka dengan ikut bersedih dan berbela sungkawa dengan Nabi.
Tapi sikap manakah yang betul, sikap gembira karena menyambut tahun baru atau bersedih dengan kesedihan Nabi dan Ahlil Baitnya?
Kalau kita menggunakan aqal sehat dan berpikir secara rasional, tentunya kita sebagai umatnya Rosulullah, mestinya ikut bersedih dan merasakan apa yang dirasakan oleh Rosulullah dan berusaha menyatukan diri dengan diri Rosul, karena seorang pecinta dengan yang dicintainya seakan tidak bisa dipisahkan. Kesedihan dirasakan bersama dan kegembiraan pun mereka rasakan berdua. Sebagaimana Uwais al Qorni yang hidup di zaman Nabi tapi tidak pernah bertemu nabi, namun beliau mencintai Rosulullah melebihi para sahabat yang dekat dan Rosulullah SAW. Pada perang Uhud gigi Rosul patah terkena panah dan anehnya gigi Uwais pun patah juga padahal waktu itu Uwais berada di Yaman. Itulah kesatuan pecinta dan yang dicintainya, cinta kepada Rosulullah yang sebenarnya. Salahkah mereka yang mengekpresikan kecintaan mereka dengan menangisi Al Husain ?
FALSAFAH MENANGISI Al-HUSAIN
Aimmah, mereka adalah gudang ilmunya Allah, pemegang rahasia-rahasia Allah, penerjemah wahyu-wahyu Allah. Sebagaimana yang tercantum dalam Doa ziaroh Jami`ah yang diriwayatkan langsung dari Imam Mahdi af.
Semua pergerakan mereka tidak pernah lepas dari hikmah dan ajaran yang sangat berarti bagi kita sebagai syi`ahnya. Aimmah mengajarkan kepada kita supaya menangisi Al Husain itu pasti mengandung hikmah yang tidak sembarangan orang bisa menyingkapnya,
1.Pandangan Syahiid Murtadho Muthohari
Beragam ekspresi dan sikap masyarakat dunia dalam menyikapi dan memperingati wafat para pemimpin dan para palawannya.
Syahiid Muthohari mengkritik pengarang buku yang bernama Muhammad Mas`ud ,yang membandingkan antara sikap orang kristen yang memperingati wafatnya Nabi Isa as dengan pesta pora dan rasa gembira dan itu katanya adalah tanda dari masyarakat yang maju. masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang puya visi jauh kedepan. Sedangkan mereka orang-orang Syi`ah yang menyambut syahadahnya Imam Husain dengan ratapan dan tangisan adalah masyarakat yang cengeng, masyarakat yang putus asa dan tidak punya harapan
Syahiid Muthohhari membantah pandangan Muhammad Mas`ud ini dengan mengatakan :”Sikap orang kristen adalah tanda dari jiwa-jiwa egois, sedangkan sikap Syi`ah adalah ciri orang-orang yang memiliki jiwa sosial”.
Orang-orang yang mengatakan bahwa tangisan identik dengan kelemahan adalah karena mereka tidak mengetahui arti penting dari perjuangan Imam Husain as.
Kemudian beliau menambahkan :”Tangisan adalah media untuk lebih mendekatkan diri dengan orang yang kita cintai, yaitu mengeluarkan ego dan mendidik diri untuk lebih empati terhadap orang lain. Sedangkan tertawa adalah tanda orang-orang yang mengutamakan hawa nafsunya, sikap orang-orang yang selalu bersenang-senang dan tanda dari jiwa yang keras”.
Dengan melihat penjelasan ini, Aimmah senantiasa menganjurkan untuk mengadakan ma`tam setiap tahun, karena demi melembutkan hati dan lebih mengakrabkan diri dengan mereka. Syahiid Muthohari melanjutkan :”Menangisi Al Husain adalah demi menjaga agar `atifiyah (perasaan) ini senantiasa ada,.selalu hidup, tidak melemah apalagi hilang, Dari sini kita bisa fahami wasiat mereka agar selalu menangisi Imam Husain as”
2.Pandangan Imam khumaini
Unsur Politik
Menangisi Imam Husain ataupun berpura-pura menangis saja akan dapat pahala, itu sudah jelas. Dan Imam khumaini dalam bukunya banyak membahas hikmah yang terpendam itu. Beliau mengatakan :”Menangisi Imam Husain mengandung unsur politik, karena dengan berkumpulnya dan menyatukan barisan menuju satu tujuan bisa menggalang persatuan dan kekuatan yang kuat. Dengan itu juga demi menjaga revolusi Imam Husain, agar senantiasa hidup dan membangkitkan masyarakat melakukan revolusi menentang ketidak adilan”.
Imam Baqir menyuruh pengikutnya agar melakukan Majlisil `Ajja Pada musim haji, sebelum beliau wafat adalah demi tujuan ini, begitu juga ratapan Imam Ali Zainal `Abidin dalam do`a-do`anya adalah cara eksplisit untuk revolusi, demikianlah pandangan Aimmah as.
Untuk keabadian dan Perkembangan Syi` ah
Ma`tam atawa majlis tangisan sudah ada sejak empat puluh harinya Imam Husain yang dilakkukan oleh bidadari-bidadari syahara karbala yaitu Sayyidah Zainab dan yang lainnya, merekalah yang mempromosikan dan menyebarkan syahadahnya Imam Husain. Dengan Ma`tamnya mereka, masyarakat Madinah mulai tahu dan bergabung dengan mereka. Dan majlisil `Ajja mereka pun semakin bertambah dari tahun ketahun.
Dimana pun di belahan dunia ini, mereka yang mengadakan `Matam semakin bertambah dan bersemangat, karena majlis ini adalah media dakwah dalam menyebakan kebenaran sejarah Islam yang sudah diputar balikkan, dengan demikian masyarkat Syi`ah semakin tersebar dan pengikutnya pun semakin bertambah dimana-mana.
Imam Khumaini memberikan gambaran :”Kita harus mengetahui rahasia kenapa Syi`ah selalu ada dan semakin kuat (padahal asalnya mereka itu adalah masyarakat minoritas ). Kunci dan rahasia terbesar adalah karena Majlis `ajja Imam Husain, dan kita harus senantiasa menjaga rahasia ini. Harus memiliki perhatian lebih dalam mengikuti acara-acara seperti ini, sebagaimana Aimmah sudah membuktikan dalam sejarah”.
Demikian, sedikit hikmah yang bisa diungkap dari tangisan dan ratapan terhadap para syuhada karbala. Bukan tanda generasi cengeng,tapi generasi yang menghargai jasa pahlawan dan menanamkan kuat jiwa kepahlawanan mereka dalam dada, agar terus membara. Ratapan dan tangisan tidak selalu identik dengan kelemahan, tapi terkadang tangisan adalah sebuah kekuatan maha dahsyat, yang siap menjebol benteng kebatilan dan menara gading ketidak adilan. Tentunya tangisan yang berfalsafah dan mengakar kuat dalam jiwa, bukan tangisan karena hal sepele apalagi keduniawian. fal `iyadzubillah.
Sumber Rujukan:
1.Assyahiid Yatahaddast `Ann Syahiid Karya Syahiid Murtadho Mutohhari
2.Nahdotu Asyuro Karya Imam Khumaini
Simpe Ali
Al Hadi 8 Muharrom 1423H
Refisi : Jpr 210203
KEADILAN SOSIAL
•September 24, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarKEADILAN SOSIAL
Keadilan, Keharmonisan Antara Hak dan Kewajiaban
Masalah keadilan adalah salah satu bahasan keagamaan yang krusial dan sangat universal. Di kalangan para theolog terjadi perdebatan panjang tentang keadilan ini, sehingga melahirkan aliran besar yaitu kaum pendukung keadilan (`adaliah) dan yang bukan. Kaum `adaliah diwakili oleh madzab Mu`tajilah dan Syi`ah walau banyak perbedaan di dalamnya. Dan mereka yang kontra dengan keadilan adalah kaum `Aysariyah.
Keadilan yang ada di dunia Islam sangatlah luas medan bahasannya. Secara garis besar ada keadilan ilahi, yaitu bahasan keadilan yang berkenaan dengan Allah SWT. Juga ada keadilan yang berkenaan dengan manusia. Bahasan yang akan dibahas dalam kesempatan ini adalah keadilan sosial, yaitu salah satu bagian dari bahasan keadilan yang berkenaan dengan manusia.
Kenapa manusia harus berbuat adil? Kenapa harus berusaha juga menegakkan keadilan di muka bumi ini? Allah Maha Adil, manusia sebagai khalifah Allah dituntut untuk menegakkan keadilan di dunia ini. Dirinya harus mencoba merealisasikan keadilan sebagai sifat tuhan, menjadikannya sebagai sifat dirinya.
Keadilan sosial mengandung arti memelihara hak-hak individu dan memberikan hak-hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya1. Karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri dalam memenuhi segala kebutuhannya. Inilah salah satu alasan Allah menciptakan manusia dalam beragam warna kulit dan bahasa, suku dan ras, agar tercipta sebuah kebersamaan dan keharmonisan di antara manusia. Dengan manusia saling memenuhi kebutuhan masing-masing, maka kebersamaan dan saling ketergantunganpun tercipta, dan ini merupakan kedilan Allah yang Maha Adil.
Ketika manusia sebagai makhluk sosial, maka secara otomatis pula ada hak dan kewajiban di antara mereka. Hak dan kewajiban adalah dua hal timbal balik, yang tidak mungkin ada salah satunya jika yang satunya lagi tidak ada. Ketika ada hak yang harus dierima, otomatis juga ada kewajiban yang harus diberikan. Imam Ali mengatakan:
“Hak seseorang tidak akan terlaksana kecuali dengan melaksanakan kewajibannya. Begitu juga, kewajiban seseorang tidak akan terlaksana kecuali dengan melaksanakan haknya”.2
Akan tetapi hak tidaklah bersifat timbal balik bagi Allah, karena hanya Allah saja yang hanya memiliki satu sisi saja yaitu hak dan tidak punya kewajiban. Hak Allah atas makhluk-Nya amatlah luas, berarti juga kewajiban kita sebagai manusia kepada Allah sangatlah banyak untuk disebutkan. “Tidak mungkin seseorang memiliki hak atas Allah, akal kita sangat kerdil untuk membenarkan bahwa ada seseorang yang memiliki hak atas Allah, walaupun nabi terakhir sekalipun”3. Imam Ali dalam salah satu khutbahnya mengatakan:
”Kalaupun terdapat pihak yang haknya terlaksana namun dia tidak memiliki kewajiban atas yang lain, maka itu hanya khusus untuk Allah”4
Semua manusia yang ada di alam ini tidak pernah lepas dari yang namanya hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban memasuki setiap ranah kehidupan dan setiap strata masyarakat. Hak dan kewajiban yang timbal balik diantara sesama manusia ini, kalau saling memberikan dan menerima dengan semestinya maka akan tercipta keharmonisan di antara manusia, dan inilah yang dinamakan dengan keadilan sosial. Melaksanakan kewajibannya dan menerima apa yang menjadi haknya.
Syahid Murtadha Muthahari dalam salah satu bukunya mengatakan : “Merealisasikan hak tidak bisa sendirian tapi harus kerjasama dengan orang lain. Hak tidak bisa tercipta dari satu pemikiran saja. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kedudukan sedemikian tinggi sehingga tidak membutuhkan kerjasama dan sumbangan pemikiran orang lain”5.
Menegakkan Keadilan, Tugas Kita Bersama
Akan tetapi melaksanakan hak atau dengan kata lain menegakkan keadilan di antara manusia adalah hal yang sangat sulit. Karena manusia lebih mendahulukan keinginan dirinya, daripada harus memberikan sesuatu kepada orang lain. Kata hak adalah kata yang setiap orang mungkin mengetahui dan mengakuinya bahwa dirinya memilik hak atas orang lain yang harus ia berikan, dan ini berada di alam pikiran. Tapi ketika pengetahuan tadi harus kita laksanakan dan merealisasikannya di alam nyata, mengeluarkannya dari tataran teori, maka ini merupakan hal lain. Karena alam teori dan alam realita adalah dua alam yang berbeda, hanya bisa menyatu jika manusia tadi sudah bisa menyatukannya, dan menjadi satu kesatuan yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi, apa yang ia ucapkan itulah yang ia lakukan. Betapa banyak hal yang kita ketahui, tapi yang kita praktekkan sedikit sekali. Imam Ali mengatakan:
”Hak adalah sesuatu yang sangat luas untuk disifati, tapi sangat sempit untuk bisa dilaksanakan”6.
Salah satu tujuan terbesar diutusnya rasul-rasul Allah, terutama Nabi terakhir Rasul penutup Muhammad saw adalah menegakkan keadilan di bumi. Sebagaimana dalam Al Quran disebutkan:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilam) supaya manusia dapat menegakkan keadilan” (Qs Al Hadid :25)
Keadilan merupakan pokok terpenting untuk menciptakan tatanan dunia yang damai dan makmur, tanpa ada diskriminasi dan pelanggaran HAM di antara sesama. Semua nabi diutus oleh Allah untuk menegakkan keadilan. Tapi keadilan itu tidak akan tercipta selama manusia masih menggunakan hukumnya, masih mendahulukan keinginan dan ego pribadinya, maka jangan harap keadilan di muka bumi akan tercipta, karena hanya keadilan yang bersumber dari tuhan saja yang bisa menjamin, dan tidak tercipta diskriminasi, bukankah para nabi juga orang-orang yang beriman sudah membuktikan hal itu?
Pemimpin keadilan, Imam Ali adalah bukti nyatanya. Beliau berusaha untuk menegakkan keadilan di masa pemerintahannya, menghilangkan kezaliman yang menimpa umat, karena kezaliman waktu itu adalah warisan penguasa sebelumnya. Maka beliau sebagai pemangku jabatan pemerintahan yang baru harus berusaha mengembalikan hukum yang sudah jungkir balik. Keadilan adalah merupakan prioritas utama di masa awal pemerintahannya. George Jordac mengatakan: ”Usaha-usaha amirul mukminin difokuskan pada perbaikan diri dan akhlak, dan berusaha menempatkan masyarakat pada dasar kejujuran dan keadilan demi melaksanakan hukum yang adil bagi kehidupan materi dan keduniawian manusia”7.
Dunia dewasa ini diperintah oleh negara-negara adikuasa, dan tentunya mereka ini bukan atas dasar keadilan yang sebenarnya, akan tetapi atas nama keadilan yang mereka bawa. Bukan keadilan yang sesungguhnya akan tetapi keadilan yang sudah didramatisir dan diskenario sedemikian rupa demi kepentingan perut mereka saja. Mereka meneriakkan keadilan dan ingin menciptakan masyarakat yang demokratis. Akan tetapi ironis sekali, yang terjadi bukannya keadilan tetapi eksploitasi dan penjajahan. Telah terjadi konspirasi tingkat tinggi antara pemimpin dunia, sehingga negara yang kecil dan rapuh adalah sasaran empuk dan menjadi bulan-bulannan mereka, Inalillah…..
Kebiasaan buruk atau kejahatan yang ditolelir dan dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan, ujung-ujungnya tidak lagi dianggap sebagai kejahatan, tapi merupakan hal yang biasa. Walaupun esensi utamanya tetap, yaitu kejahatan dan keburukan. Hal ini merupakan hal yang sangat berbahaya. Kejahatan yang diakui sebagai kebenaran tetap menjadi sebuah kejahatan. Negara-negara lemah mengaharapkan uluran tangan. Tetapi tidak ada yang menjadi harapan mereka kecuali tuhan mereka yang Maha Adil dan Maha Kasih. Imam Ali as mengatakan:
“Si tertindas dan tak berdaya adalah orang-orang mulia dan si penindas adalah orang-orang hina dan rendah, orang-orang kecil tidak dapat melakukan moral dan pembawaan yang baik karena ketidakberdayaan mereka dari penindasan pejabat, sedangkan para pejabat menyembunyikan cacat mereka di balik pakaian yang mewah”.8
Kita harus berusaha menciptakan keadilan, atau paling tidak menjadi bagian dari orang-orang yang meneriakkan keadilan. Kita tidak punya pilihan lain kecuali dua hal; menjadi pendukung keadilan atau menjadi penyokong kezaliman. Tentunya kita sebagai manusia yang berakal menjadi pendukung, bukan menjadi sebaliknya. Menjadi pendukung bukanlah hal yang gampang, karena keadilan dan kebenaran membawa konsekuensi yang banyak sekaligus berat, kita harus mempersiapkan diri untuk menggapainya. Bukankah pengikut pemimpin keadilan (Imam Ali) sebagaimana beliau katakan, harus siap menderita dan menghadapi cobaan???
Ketika kita sebagai kaum muslimin merasa lemah, musuh teramat banyak dan senantiasa mengintai kita, juga fitnahpun semakin merajalela, musuh-musuh Islam semakin gencar menuduh yang tidak-tidak dan kita tidak memiliki penolong lagi, kecuali pemimpin harapan, dan imam yang ditunggu. Maka kita hendaknya sering-sering membaca doa Fi Zaman Al Ghaibah terutama pada hari jum`at. Meminta kepada Allah agar Imam Mahdi af segera dimunculkan dan kita menjadi bagian dari orang-orang yang mendukung beliau dan mati syahid bersama beliau, Amiin.
Tapi sedari sekarang kita harus melatih diri berbuat adil terhadap orang lain dan diri sendiri. Berusaha sedikit demi sedikit meneriakkan keadian semampu kita, “Kita harus adil sejak dalam pikiran”9.
Diantara kutipan doa Fi Zaman Al Ghaibah, Mafatihul Jinan; Syekh Abbas Qummi :
“Ya Allah, kami mengadu kepada-Mu, nabi kami telah tiada, imam kami pun gaib, sedangkan keadan zaman semakin menekan kami, fitnah menimpa kami, musuh-musuh kami semakin nampak dan semakin banyak, sedangkan jumlah kami teramat sedikit. Maka ya Allah kami memohon kepada-Mu selesaikanlah hal itu semua, dengan Engkau segerakan kemenangan-Mu kepada kami, muliakan kami dengan pertolongan-Mu, dan imam yang adil pun Engkau tampakkan (kepada kami), amiin ya Allah”.
By Simpe Ali
KESYAHIDAN IMAM HUSAIN AS
•September 2, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarKESYAHIDAN IMAM HUSAIN AS,
Sebuah Refleksi Agung Kemanusiaan
Banyak keberatan-keberatan dan pertanyan-pertanyaan tak terjawab dari berbagai kalangan yang mempertanyakan tentang arti perjuangan agung yang dilakukan oleh Imam Husain as. Atau terkadang mucul persefsi miring, dikarenakan Imam Husain melakukan sebuah tindakan yang sangat tidak lajim, terlalu ekstrim dan diluar batas logika pemikiran mereka.
Imam melakukan sebuah tindakan yang ibaratnya bunuh diri, karena beliau pergi menentang musuhnya dengan hanya sedikit pasukan dan minimnya persenjataan, beliau pun menyertakan perempuan dan anak-anak kecil dalam perjalanan perjuangannya, dan seakan-akan pula Imam tidak memperhitungkan akan kerugian dan kekalahan besar yang akan beliau tanggung akibat peperangan yang tak seimbang ini. Apakah memang beliau sengaja setor nyawa, menyerahkan lehernya untuk dipenggal bala tentara Yazid yang terkeanl bengis dan kejam?
Memang kita tidak akan pernah bisa mengetahui alasan dari semua tindakan tidak masuk akal Imam Husain, karena seorang syuhada memiliki logika khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang-orang selainnya, dan lagi kita akan kesulitan melacaknya kecuali kita memiliki kualitas diri yang agung pula, karena tidak ada tindakan agung kecuali bersumber dari orang yang kualitas dirinya agung. Kitapun sebelumnya harus mengetahui kedaan Islam dan kaum Muslimin saat itu. Karena yang melatar belakangi semua perjuangan Imam Husain adalah Islam yang ada dalam ambang kehancuran.
Sebagaimana yang tercatat dalam literatur-literatur sejarah, bahwa keadaan kaum Islam dan Muslimin terutama diluar Makkah dan Madinah saat itu benar-benar kabur dan sudah tidak kenal lagi Islam Muhammadi, sudah tidak kenal lagi kebenaran yang mereka kenal hanyalah Islam sebagimana yang penguasa legalkan. Mereka tidak mengenal adanya keluarga Ahlullbayt Rasulullah saww. Mereka pun tidak mengenall akan keluhuran dan pengorbanan besar pahlawan terbesar Islam, Imam Ali as, yang mereka kenal hanyalah Ali sang pengkhianat dan layak dilaknat. Hal ini merupakan puncak keberhasilan propaganda-propaganda busuk Muawiyah bersama agen-agen kotornya, usaha mereka berhasil dalam membenamkan pemikiran-pemikiran beracun dalam benak dan kultur masyarakat yang berlangsung sekian lama. Maka sebuah kewajaran jika Islam menjadi kabur dari kebenaran aslinya dan kaum muslimin menjadi awam dari esensi Islam sebenarnya. Di jaman Muawiyah inilah lahir kelompok-kelompok bentukan penguasa, hanya untuk mendukung kekuasan. Parahnya kelompok ini mengatas namakan Islam, karena berbenteng al Quran dan bertammengkan hadist Rasulullah, yaitu golongan Murji`ah dan Jabariah.
Hal semacam inilah yang melatar belakangi perjuangan Imam Husain. Beliau ingin mengembalikan Islam kejalan yang digariskan kakeknya Rasulullah saww, beliau ingin menyadarkan kaum muslimin akan realita yang sebenarnya. Tugas seorang Imamlah untuk menjaga Islam dan membangkitkan semangat keislaman yang benar yang ada di tengah-tengah masyarakat.
Sebagaimana yang beliau katakan kepada orang-orang yang menasiahatkan kepada beliau agar tidak pergi menuju kematian, terutaman sesepuh-sesepuh Makkah dan Madinah yang sibuk dengan dzikir dan munajat, yang hanya puas dengan bersimpuh di Masjid dan tidak ada empati samasekali dengan keadaan masyarakat, beliau mengatakan:
“Sunggguh aku tidak bangkit karena kesombongan dan keangkuhan, aku bukanlah perusak (mufsid) atau orang dzalim, aku bangkit hanya untuk melakukan reformasi pada umat kakekku, aku ingin mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, aku berjalan di atas jalan kakek dan ayahku, Ali bin Abi Thalib”
Kemanusiaan manusia saat itu kehilangan pamornya, digantikan keserakahan dan nafsu angkara murka. Ketika keserakahan dan tirani berkuasa otomatis akan mengesampingkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan ketika nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan maka dunia tingggal menungggu saat kehancurannya.
Seorang wali Allah, atau orang-orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kebenaran dan keadilan, tidak akan pernah ridho melihat kejahatan dan tirani merajalela, mereka tidak akan pernah tingggal diam berpangku tangan saja ketika dihadapan mereka penguasa dzalim menampakkan taringnya. Mereka pasti bangkit dan menentang tirani tersebut walaupun nyawa mereka sekalipun yang jadi tebusannya. Mereka pasti tidak akan mempedulikan nyawa berharga mereka, karena dimata mereka kebenaran dan keadilan jauh lebih berharga dari nyawa mereka. Imam Husain menyenandungkan syair sebelum menjemput kesyahidannya: ”Andai badan ini memang diciptakan untuk mati, maka bukankah mati di jalan Allah lebih mulia”.
Di mata mereka kebenaran dan keadilan lebih luas dan lebih agung cakupannya, sedangkan nyawa mereka bersiftat individual belaka saja. Kalau nilai kemanusian yang jadi tujuan mereka maka sifatnya universal sedangkan kalau nyawa mereka, egoisme yang melatarbelakanginya. Nilai kemanusiaan letaknya kemuliaan dan keabadiaan sedangkan ketika fokus utama adalah nyawa maka bersifat temporer, sesaat saja. Tentu orang-orang mulia akan memilih sesuatu yang abadi dan mulia.
Syahid Muthahhari dalam salahsatu ceramahnya mengatakan, bahwa salahsatu syarat dari agungnya sebuah revolisi atau gerakan perjuangan adalah tujuan yang bersifat kemanusiaan dan universal, ”syarat pertama dari sebuah kebangkitan yang suci adalah tujuan kebangkitan tersebut tidak bersifat subjektif, tapi manusiawi dan universal. Yakni demi sosial, kemanusiaan, hakekat, kebenaran, tauhid, keadilan dan kesejajaran, bukan karena kepentingan pribadi”.
Islam Muhammadi mengajarkan nilai-nilai kemanusian untuk dijungjung tingggi dimanapun dan kapanpun. Dan kemanuisaan manusia akan menyempurna jikalau manusia memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan atau istilah yang lebih terkenal Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Bukan hanya HAM yang berkenaan dengan dirinya sendiri tapi lebih dari itu, yaitu berkenaan dengan orang-orang di luar dirinya. Mereka yang perhatian dengan hak kemanusiaan orang lain, tidaklah hal tersebut akan muncul kecuali dari diri-diri yang memiliki kualitas kemanusian diri yang demikian tingggi, kualitas diri manusia Ilahi.
Letak keuniversalan gerakan Imam Husain bisa dilihat pula melalui perkataan beliau sendiri ketika beliau menungkapkan rahasia dibalik gerakannnya; ”Selama kepemimpinan umat dipegang oleh manusia seperti Yazid maka ucapkanlah selamat tinggal kepada Islam, karena setelah itu tidak akan ada lagi yang namanya Islam”. Beliau bukan mengatakan kekuasaan di tangan Yazid, sehingga hanya bersifat satu zaman saja. Tapi beliau mengatakan jika kekuasaan ditangan orang-orang yang seperti Yazid, sehinggga maknanya lebih abadi. Artinya kapanpun terjadinya atau siapapun orangnya yang jelas tingkahlaku dan perangainya menyerupai Yazid maka Islam dan keselamatan dunia tidak akan pernah tercipta, karena mana mungkin manusia yang sama sekali tidak memiliki kualitas kemansuian akan bisa memimpin masyarakat islami dan membuat tatanan dunia yang lebih baik. Ucpkan selamat tinggal dan songsonglah kehancuran.
Dari ucapan beliau inilah kita mesti belajar tentang cara berjuang dan melakukan sebuah gerakan pembaharuan tatanan dunia yang kacau ini. Bahwa kita harus tegas menolak orang-orang yang ingin menjadi pemimpin masyarakat tapi tidak memiliki kualitas diri yang baik, karena hanya akan menjadi bumerang bagi kehidupan kita dan masyarakat. Sebaliknya kita harus meniru beliau, artinya memperbaiki diri kita agar memiliki kualitas orang-orang yang menyerahkan jiwa raga demi kebenaran dan keadilan dan demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan, kita harus memiliki kualitas kemanusiaan yang tinggi agar bisa menegakkan nilai kemanusiaan. Inilah misi perjuangan Imam Husain jangka panjang, mempersiapkan dan mengajarkan para pengikut jalannya, dan meneruskan misi agungnnya. Misi beliau yang melintasi rentangan waktu.
Manusia-manusia semacam Yazid akan selalu menghiasi dunia, dan mereka akan sebagaimana Yazid akan menggunakan kekuasaan berdasarkan keserakahannya untuk mengguasai dunia dan akan ia penuhi dengan keangkaramurkaan. Barangkali disekeliling kita pun ada orang-orang busuk yang menyebarkan ketidak nyamanan ditengah masyarakat, kalau kita mempelajari gerakan Imam Husain, maka gerakan kita harus bermula dari skala kecil dulu. Kita harus merasa hina ketika harus hidup bersama orang yang berkualitas semacam Yazid, sebagaimana prinsip Imam Husain ketika beliau mengatakan: ”Aku tidak melihat kematian kecuali sebuah keindahan dan hidup bersama-sama orang dzalim adalah sebuah kehinaan”.
Ringkasnya gerakan Imam Husain adalah demi tegaknya nilai-nilai agung kemanusia dan gerakan revolusi Imam Husain adalah sebuah refleksi dari agungnya nilai kemanusiaan beliau. Kita harus berusaha semampu kita untuk menjadi penerus misi beliau agar bisa bergabung bersama penegak kebenaran dan keadilan di zaman ini, Imam Mahdi af. Karena kesyahidan Imam Husain akan senantiasa berkobar sepanjang zaman. Kiat harus selalu meneriakkan “Kullu Yaumin `Asyura, Kullu Ardin Karbala”.
Jawadi Amuli mengatakan :”Ucapan dan pendiriaan Imam Husain as menyingkapkan kepribadian beliau sebagai manusia Ilahi. Beliau mampu menatar tiga generasi sekaligus; tidak hanya zamannya tapi juga umat manusia yang datang sebelum dan setelahnya. Dengan kata lain, kepedulian Imam Husain telah menundukan lompatan zaman”.




